Tumpakrejo | sahabatkrisna.com –
Setiap musim hujan turun, Jalan utama Desa Tumpakrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang, berubah menjadi lintasan penuh lumpur dan lubang. Bukan lagi sekadar jalan rusak, kondisinya kini menyerupai kubangan yang membahayakan siapa pun yang melintas. Jalan berstatus jalan kabupaten ini pun memicu kemarahan warga hingga mereka mendatangi Kepala Desa Tumpakrejo, Miselan, menuntut solusi nyata.
Bagi warga Tumpakrejo, jalan tersebut adalah urat nadi kehidupan. Setiap hari dilalui petani, peternak, pelajar, hingga warga yang hendak berobat. Namun kini, roda ekonomi kerap tersendat karena jalan licin, berlubang, dan penuh genangan.
“Kalau hujan, motornya gampang kepleset. Kami cari rumput buat ternak lewat sini, bawa anak dan istri. Rasanya tiap lewat selalu waswas,” keluh warga setempat.
Kondisi paling parah terlihat di beberapa titik yang dipenuhi lubang besar. Saat hujan, lubang itu berubah menjadi kolam lumpur, sedangkan saat kemarau debu beterbangan dan mengganggu pernapasan warga.
Tokoh masyarakat Tumpakrejo, Senimin, menegaskan bahwa keluhan ini bukan sekali dua kali disampaikan. Meski warga sadar jalan tersebut kewenangan Pemerintah Kabupaten Malang, mereka berharap ada keberpihakan dan keseriusan.
“Kami sudah sering mengadu ke kepala desa. Kami paham ini jalan kabupaten, tapi kami berharap ada upaya kuat agar segera diperbaiki. Jangan sampai menunggu ada korban,” tegas Senimin.
Menanggapi desakan warga, Kepala Desa Tumpakrejo, Miselan, mengakui tekanan yang terus datang dari masyarakat. Ia menyatakan pemerintah desa tidak tinggal diam dan telah berulang kali menyampaikan kondisi jalan kepada instansi terkait.
“Kami ini pelayan masyarakat. Setiap keluhan kami sampaikan ke pemerintah kabupaten, terutama terkait jalan K1 yang kondisinya sudah sangat memprihatinkan,” ujar Miselan saat ditemui awak media, Sabtu (24/01/2026).
Menurutnya, di kawasan tersebut telah berdiri KDMP, namun akses jalannya masih rusak dengan batu-batu yang tampak di sepanjang kurang lebih satu kilometer. Di jalur itu pula terdapat SDN 4 Wonogoro, sehingga keselamatan siswa menjadi perhatian serius.
“Ini bukan cuma soal ekonomi, tapi juga pendidikan dan kesehatan. Jalan yang layak adalah kebutuhan dasar masyarakat,” tambahnya.
Miselan mengungkapkan, pihak Dinas Bina Marga Kabupaten Malang telah melakukan survei dan pengukuran lapangan. Rencana pembangunan jalan disebutkan sepanjang sekitar 400 meter dengan lebar 5 meter, namun hingga kini warga masih menunggu realisasi.
“Yang datang mengeluh ke saya bukan satu dua orang. Hampir setiap hari ada warga bertanya, kapan jalannya diperbaiki,” ungkapnya.
Kekecewaan warga sebelumnya bahkan sempat diwujudkan dalam aksi spontan dengan menanam pohon pisang di tengah jalan rusak, sebagai simbol protes atas lambannya penanganan.
Kini, harapan warga sederhana: pemerintah hadir sebelum jalan rusak ini benar-benar memakan korban. Jalan yang layak bukan kemewahan, melainkan kebutuhan agar kehidupan masyarakat desa bisa berjalan normal dan aman.
(Suryadi/pio)
Penulis : Timredaksi
Editor : Irvan
Sumber Berita: Warga tumpakrejo







